Putri Liana melihat sang Raja mondar-mandir di depan singgasananya, ia kemudian mendekatinya "Ayah memanggilku?" Tanyanya lembut sambil membelai ayahnya.
"Ah, ya akhirnya kau datang sayang. Anak ku, ada yang ayah ingin sampaikan"
Sekelebat Liana berpikir, bahkan ayahnya tidak menyadari kehadirannya tadi hingga ia menegurnya, pasti ini hal yang penting sekali "Apakah ini tentang masalah naga itu wahai Ayah?"
"Ah, memang itu anakku yang ingin kubicarakan, jadi aku berencana mengadakan sayembara, aku akan memberikan hadiah bagi siapa yang dapat membunuh naga itu."
"Itu bagus sekali ayah"
"Ya, tapi setujukah engkau, kalau aku akan menikahkan engkau dengan orang yang berhasil tersebut?"
Mata Liana membesar " Apa maksud ayah? Maksudmu aku yang menjadi hadiahnya"
" Tidak, bukan begitu sayangku, aku memberikan mereka hadiahnya berupa uang dan emas tapi aku rasa itu hanya akan mengundang orang-orang yang mencoba mengadu nasib"
"Maksud ayah?" Tanya Liana tidak mengerti.
"Maksudku aku berharap raja-raja dari negeri lain akan membantu kita, kau tidak akan menikah dengan rakyat biasa sayang."
Liana merasa ada sesuatu yang menggelolak di dasar hatinya, giginya menggereget menahan emosinya, "BUKAN ITU MAKSUDKU! AYAH SAMA SAJA MENJUALKU JIKA BEGITU" teriaknya akhirnya lalu ia langsung lari ke kamarnya dan menangis seharian.
~~~~~
Fajar belum terbit, namun Putri Liana sudah terbangun gelisah. Lalu ia berjalan keluar kamarnya melalui beberapa penjaga yang menunduk hormat ia menuju ke dapur istana yang tenyata sudah penuh aroma masakan. Para penghuni dapur begitu terkejut dengan kunjungan yang tidak biasa dari seorang anak raja, mereka langsung menghentikan pekerjaan mereka dan memberi hormat pada putri. Putri tidak suka sekali apabila melihat seseorang menghentikan pekerjaan mereka jika hanya untuk memberi hormat padanya, berbeda untuk para penjaga, merekakan hanya berdiri saja kerjanya. "Ah, lanjutkan pekerjaan kalian" kata Putri, namun sepertinya ia sudah terbiasa memerintah. "Dimana Mina ya, ada yang melihatnya?"
Tidak ada yang berani menjawab, bahkan sebagian pekerja dapur menunduk, seakan saja mereka akan dihukum apabila mengatakan sesuatu yang salah. Liana benci hal itu, namun paling tidak beberapa orang yang ditatapnya menggeleng tidak tahu memberi respon. "Nanti bilang padanya untuk datang ke kamarku ya" kemudian Putri meninggalkan dapur tersebut sambil mendesah.
~~~
Tak lama Putri mengamati taman dari jendela kamarnya terdengar seseorang mengetuk pintunya, Putri langsung meloncat ke arah pintu lalu membukanya dan benar saja, seorang wanita berbadan agak gemuk, wanita yang selalu membawakan makanan Putri apabila ia ingin makan di kamarnya. "Mina, aku ingin keluar istana, maukah kau membantuku? Eh!" Putri Liana melirik dua pengawal yang berdiri beberapa meter dari mereka, (Putrilah sebenarnya yang melarang mereka berjaga di depan pintunya) "jangan di luar sini, kita bicara di dalam saja. Ayo masuk Mina"
"Jadi, apa maksudmu tuan putri dengan 'membantumu keluar'? Bukannya kamu bisa izin dengan ayahmu?"
"Bukan, aku sedang tidak ingin jalan-jalan ke air sungai seperti biasa atau ke tempat rekreasi kerajaan lainnya. Aku ingin jalan-jalan ke kota atau ke desa."
"Ya, tapi kau kan tetap bisa izin dengan ayahmu"
"Astaga, sama saja Mina. Yang kumau itu aku tidak mau dikawal, aku tidak ingin menarik perhatian"
Mina terdiam, ia paham sebenarnya kemauan putri. "Baiklah, akan kuusahakan"
"Harus bisa!" Tegas putri. Mina menatapnya sejenak lalu tersenyum "Ya, baiklah"
~~~~~~~
Putri Liana tidak ikut makan bersama raja di ruang makan hari ini. Ia masih kesal dengan maksud ayahnya. Sebenarnya dia sih tidak masalah apabila mesti menikah dengan raja negri mana saja. Tapi inikan sayembara, ia tidak dapat memilih atau menolak siapa yang berhasil nantinya membunuh naga tersebut. Tidak pernahkah ayahnya berpikir, bagaimana kalau yang berhasil mengalahkan naga tersebut justru pasukan dari seorang raja yang sudah tua sekali atau bahkan akan berbuat kejam terhadapnya. Liana merinding memikirkan hal tersebut. Ia sudah sering mendengar raja-raja yg kejam terhadap rakyat di negri lain sana.
Sebenarnya sempat terbersit dipikirannya untuk kabur dari istana, namun ia tertawa sendiri dengan lamunannya tersebut. Itu hal bodoh pikirnya, yah bagaimanapun ia merasa ia masih bisa membicarakan hal tersebut baik-baik dengan ayahnya, pasti raja akan paham pada akhirnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar