Minggu, 03 Maret 2013

Sebuah cerpen : "Peri hutan yang lain"


Mina menggeliat diatas kasur bunga dahlia merah jambu ketika secercah sinar sang surya membelai wajahnya. Dibukanya kedua kelopak matanya. Terbentang dihadapannya keindahan hutan Malibou yang mempesona dengan bebukitan yang diselubungi aneka warna bunga. Sebuah aliran sungai yang berair bening menciptakan gemercik halus bak musik terapi jiwa. Beragam dedaunan kering yang berwarna coklat keemasan bagai permadani menutupi permukaan tanah hutan.
             Ini hari pertamanya sebagai seorang peri hutan. Malam tadi dia mengambil sebuah keputusan besar dalam hidupnya. Menjadi seorang peri seperti dalam film-film kartun yang pernah dilihatnya. Setelah selama sebulan tersesat di hutan dan berteman dengan beberapa peri, akhirnya ia menyetujui ajakan mereka untuk menjadi seorang peri pelindung hutan.

           Ditegakkannya tubuhnya yang telah menyusut menjadi sebesar jari telunjuk manusia biasa. Dicobanya mengepakkan kedua sayap yang baru diterimanya pada acara penyambutan tadi malam. Masih teringat dengan jelas peringatan Ratu Peri padanya, "Mina, tunggu hingga esok pagi tiba sebelum kamu mencoba sayap barumu. Dan ingat, jangan memakainya terlalu lama atau memakainya untuk terbang sambil membawa beban yang terlalu berat."
***
Mina tersenyum bahagia kini dirinya telah memiliki sayap, dan bebas terbang kemana pun ia mau. Bruk…! Mina terjatuh. Sayapnya masih lemah. Ia mencoba untuk yang kedua kali, membentangkan sayapnya, dan kini ia tersenyum puas. Sayapnya telah berfungsi dengan baik, membawa tubuhnya melayang di udara.
Taman bunga tempat para peri tampak begitu indah. Aneka warna bunga tumbuh subur di sana. Mina terbang menghirup kelopak bunga satu persatu, menikmatinya bersama sisa embun pagi. Matahari mulai mersinar memberikan kehangatan, membuat tetes air di atas daun tampak berkilauan bak mutiara yang terhampar.
Ia mencoba terbang ke arah hutan, melewati semak dan pepohonan yang mejulang. Keindahan hutan membuatnya berdecak kagum. “Indah,” gumam Mina. Matahari mulai condong ke barat, saat sesuatu menarik perhatian Mina. Matanya menatap sesuatu berwarna ungu di kejauhan. Ia terbang mendekat. Anggrek ungu. “Aku ingin membawanya pulang,” bisik batin Mina.
Saat mencoba memetik kelopar anggrek itu, tiba-tiba sayapnya melemah. “Apa yang terjadi dengaku?” tubuh mungil itu melayang jatuh bagaikan daun terlepas dari tangkainya.
            "Bruuuk"
Tubuh mungilnya terhempas di rerumputan. Beruntung tubuh mungilnya tidak mengalami luka yang berarti. Hanya memar di bagian lututnya.
 "Huft, sepertinya aku terlalu memaksakan diri," ucapnya.
Mina mencoba mengepakkan sayap mungilnya, namun ia masih merasa kesakitan. Tubuhnya masih terhuyung-huyung akibat kejadian itu.
 "Kau tak apa?" ucap suara seseorang dari belakangnya.
 "Heh, iya gak apa-apa kok,"
 "Maaf, tadi tidak bisa menolongmu,"
 "Gak apa-apa kok!" ucap Mina datar.
"Ngomong-ngomong kamu siapa?" lanjutnya.
 "Aku Javier. Peri penjaga yang sedang berpratoli di daerah sini. Kenapa kau sampai terjatuh tadi?"
“Oh, ya tadi, aku ingin memetik anggerk cantik itu dan membawanya pulang, namun sepertinya sayapku masih belum cukup kuat untuk menahan beban”
“Apa katamu tadi? Memetik?” tanya Javier, terdengar perubahan pada suaranya dan raut wajahnya, membuat Mina merasa ia telah melakukan sesuatu yang salah.
“Eh, memangnya kenapa? Tapi, tapi aku belum memetiknya kok”.
Javier masih memandangnya dengan raut yang membuat Mina merasa tidak enak, hingga akhirnya berkata, “Kau selamat kalau begitu”
Jantung Mina serasa mencelos mendengar kalimat tersebut, yang berarti dia memang benar-benar hampir melakukan sesuatu yang dilarang bahkan mungkin tabu. “Ke, kenapa memangnya? Bolehkah aku tahu? Tidak boleh memetik bunga ya?”
“Bukan memetiknya, tapi kau hampir saja memetik bunga Anggrek, jelmaan Ratu Arshidila; Ratu terdahulu, beliau mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan hutan ini dengan menjadikan diri beliau sendiri sebagai pelindung dengan menjadi bunga Anggrek”
Mina terkesiap dan sangat malu sekaligus merasa sangat bersalah, “Ma, maafkan aku”
Javier menggeleng, “Bukan padaku, tapi pada bunga itu”
“Ah, ya..” Mina langsung mengembangkan sayapnya namun saat ia mulai mengepakkan, ia tidak dapat mengangkat dirinya. Ia coba kembali, namun satu senti pun tidak.
“Kenapa?” tanya Javier.
Wajah Mina berubah pucat, ia semakin takut, kalau-kalau saja ini adalah hukuman dari Sang Ratu Arshidila, Mina mulai merasakan matanya memanas, dan kelopak mata bagian bawahnya mulai menggembung berusaha menahan air matanya yang akan menyeruak, “Tidak, tidak apa-apa Javier” katanya berbohong, “Ya, aku akan meminta maaaf, kau bisa meninggalkanku sekarang”. Mina tidak peduli lagi apabila cara bicaranya tidak sopan karena ia tidak ingin Javier melihatnya menangis.
“Kau baik-baik saja?” tanya Javier.
Bibir Mina mulai bergetar, “Ya” jawabnya singkat sambil menunduk yang justru membuat air matanya keluar dari bendungan kelopaknya.
“Baiklah, aku tinggalkan” ucap Javier akhirnya meninggalkannya terbang.
Air mata Mina langsung mengalir lebih deras berjatuhan ke tanah. Ia menyapunya dengan lengan gaunnya. Mina lalu berjalan ke arah batang kayu besar dimana Anggrek itu menempel, tinggi sekali kalau dilihat dari bawah sini. Satu-satunya cara adalah memanjat! Mina mulai mencari pijakan pertama dan pegangan kemudian mengangkat dirinya, lalu Mina terus memanjat dengan susah payah. Sekitar tingginya sudah empat kali panjang badannya, Mina mulai memanjat dengan tenang, dan mulai memikirkan kalau sebenarnya ia adalah peri yang aneh; memiliki sayap tapi memanjat, dan tertawa sendiri, namun tiba-tiba kakinya terpeleset dan pegangan pada tangannya lepas membuat ia terjatuh terhempas ke tanah dan tak sadarkan diri.
***
Saat kesadarannya mulai kembali, Mina masih merasakan sakit pada bagian belakang kepalanya, namun ia merasa gatal pada seluruh badannya yang ternyata sedang berbaring di atas tumpukan jerami, yang berupa sarang seekor burung hantu besar yang menakutkan.
“Oh, kau tak perlu takut, peri! Aku tidak akan memakanmu, yah walaupun aku pemakan daging sebenarnya, tapi kau pengecualian.” katanya terdengar suara dengkuran khas burung hantu diakhir perkataannya, Mina berpikir bahwa itu adalah kekehan burung hantu.
“Ah, yah, terima kasih tuan burung hantu” ucap Mina, namun sesaat kemudian ia langsung teringat kembali akan masalahnya “Tahukah kamu tentang Ratu Arshidila?”
“Yah, tentu, beliau baik sekali kepada bangsaku, makanya aku juga baik pada kalian”
Mina terkesiap mendengar ucapan si burung hantu, semakin menambah perasaan bersalahnya.
“Kenapa memangnya?” tanya si burung hantu. Kemudian Mina pun menceritakan kejadian yang menimpanya siang tadi, mulai dari saat ia berusaha memetik Anggrek hingga ia berusaha memanjat dan terjatuh.
“Hmm, kau ingin memetiknya lalu kau kena karmanya? Entahlah, menurutku ratu Arshidila adalah seorang ratu yang sangat baik, terlalu baik malah, bahkan untuk sebuah karma”
“Bagaimana kalau alam yang marah atau Tuhan?” tanya Mina berkelanjutan.
“Tidak tahu ya, tapi kenapa tidak kau coba saja terbang sekarang?”
“Kau bercanda? Aku bisa mati dengan ketinggian seperti ini” kata Mina melihat ia berada di sebuah pohon yang rasanya setinggi puncak monas. Si burung hantu kembali mengeluarkan suara dengkuran tawanya, “Kudengar para peri hidup ribuan tahun, bagaimana kau bisa mati?”
“Tapi mungkin saja itu pengecualian”
“Coba saja!” lalu burung hantu itu maju langsung mendorong Mina keluar dari sarangnya dan AAAAHHHH.... Mina jatuh dari ketinggian lebih seribu kaki bagi ukurannya, sesaat Mina mengira ia akan mati, namun ia dapat merasakan badannya ringan dan angin serasa mengelus sayapnya, kemudian secara naluriah Mina membentangkan sayapnya dan ia merasakan angin mulai menekannya ke atas. Mina berhasil terbang! Ia kemudian meliuk-liuk merasakan angin yang berhembus menerpa wajahnya melewati sayap-sayap indahnya dan ia menikuk ke atas menuju sarang si burung hantu “Terima kasih tuan burung hantu!!” teriaknya penuh terima kasih.
“Ya ya ya”

Kemudian Mina pergi terbang ke arah timur hutan, dimana para peri lainnya juga banyak pergi kesana, bagian sanalah yang paling parah kerusakannya akibat ulah manusia kata Totty, peri yang memberinya tugas dariRratu. Dan ternyata kenyataannya lebih buruk; hutan terbabat habis, namun tidak hanya itu, keadaan tanah disini hitam akibat hasil dari kebakaran yang mereka ulah, sehingga tidak ada satupun tumbuhan kecil apalagi tunas yang tersisa.
Tiba-tiba gejolak kemarahan bergemuruh di dadanya. Ia merasa berang sekali melihat keadaan hutan yang sudah seperti ini.
Mina terus terbang memandang dengan sedih dan marah, lupa bahwa tugas utamanya adalah memperbaiki. Kemudian Mina melihat seorang kakek tua dengan badan masih tegar; sedang menunduk, mencangkul tanah dan kemudian menanam sebuah bibit, setelah selesai, beliau mulai mencangkul lagi tanah beberapa meter dari tempat pertamanya. Mina mengamatinya dari balik bekas tebangan pohon yang menghitam, dan kakek itu terus aja melakukan aktivitanya tanpa henti. Ketika kakek itu bertepatan membelakanginya, Mina langsung terbang membumbung untuk melihat hasil kerja kakek tersebut. Betapa terkejutnya ia saat mendapati hingga ujung hutan, sudah berjejer rapi bintik-bintik hijau, yang merupakan bibit-bibit yang ditanam oleh kakek tersebut.
Mina terbengong melihat sang kakek. Mina terbang berkeliling melihat hasil sang kakek yang berjerih payah. Mina menghampirinya dengan sedikit ragu. “Hay kakek... mengapa kau menanami hutan ini?” pertanyaan itu meluncur begitu saja tanpa ia berpikir panjang.
Sang kakek yang sedang mengelap wajah yang penuh peluh keringat bercucuran, sesaat terlihat bingung menengok sana-sini mencari asal suara kecil yang ia dengar. Mina baru ingat kalau ia sekarang berwujud peri! Namun saat ia hendak kabur, mata kakek telah melihatnya, matanya membesar antara kaget tidak percaya dan kagum. “Tidak kusangka, ternyata peri itu benar-benar ada!”. Mina jadi takut dan bingung antara harus pergi atau tetap menunggu jawaban si kakek. Lalu kakek itu tersenyum ramah menatap Mina, keterkejutannya tidak melupakannya dengan pertanyaan Mina, lalu kakek berkata. “Karena aku pernah merusak hutan pula wahai peri. Aku melakukan ini adalah untuk menebus kesalahanku tempo dulu”.
Mina terlihat masih bingung. “Kapan kamu merusak hutan ini? Baru saja?”
“Enam tahun yang lalu”
“Enam tahun yang lalu?” gumam Mina untuk dirinya sendiri “Berapa lama kamu sudah menanami seperti ini kakek?”
“Baru lima tahun” kata kakek yang kemudian terkekeh, Mina mengangkat alisnya, “Kamu tahu wahai peri? Sebenarnya aku sempat dijuluki oleh orang barat itu ‘peri hutan’, tak kusangka aku malah benar-benar bertemu dengan peri hutan yang asli.”
“Orang barat?” tanyaMina kembali tak paham.
“Oh iya, sebentar” lalu kakek itu mengeluarkan sebuah kertas abu-abu lusuh dari kantongnya yang ternyata adalah robekan koran, ia memperlihatkannya kepada Mina, “Eh, kau bisa membaca?”
“Tentu saja!” sahut Mina sewot, ia mulai membaca dan mengejutkan sekali isinya, isinya menceritakan tentang seorang yang diminta oleh kemenentrian Amerika untuk mengisi bagian departemen kehutanan di negara adidaya tersebut, karena ia tanpa sengaja terlihat oleh salah seorang bagian pemerintahan Amerika yang berkunjung ke Indonesia, selalu menanami hutan yang gundul setiap hari, saat orang pemerintahan tersebut melihat-lihat, ia terkagum-kagum saat tahu ternyata orang tersebut bekerja tanpa dibayar, sehingga ia tertarik dan menawarkan kepadanya untuk bekerja di Amerika di bagian pemerintahan, dengan pekerjaan yang begitu tinggi dan dibayar! Namun ia menolaknya begitu saja dan tetap menanami hutan tersebut tanpa dibayar dan tetap tanpa pernah diperhatikan oleh pemerintah Indonesia. Dan Mina lebih terkejut lagi saat melihat gambar seseorang yang mirip dengan kakek terpampang dibagian robekan koran tersebut. “Ini kakek?’ tanyanya.
“Ya” katanya sambil tersenyum lebar, “Orang itu, orang barat yang memintaku itu, baik sekali, kami sempat berteman dan dia memberiku gelar ‘Peri hutan’, yah dan siapa sangka aku benar-benar bertemu peri hutan yang lain”.-
~Selesai~




Cerpen disusun oleh anggota kelompok X (PENAKLUK) pada Grup Facebook “PEDAS-Penulis dan Sastra”;
1. Andalusiana Cordoba
2. Prissando Pangeran
3. Lyla Nur Ratri
4.Maria Uhuuii
5. Wahyu Laila El-lu'luah
6. Shofia Marzalini Sopi Part II
7. Abu Yazid Busthami
Cerpen ini agak saya ubah sedikit ceritanya ke arah khayalan saya, karena ternyata cerpen bersambung itu memang dilakukan oleh orang2 yang memiliki pikiran yang berbeda.... jadi... ternyata cerita yang saya khayalkan berbeda... namun tetap asik, nah jadi, ini adalah versi agak ke saya... :D kalau mau versi hasil murni gabungan 7 penulis di atas, dapat dilihat di grupnya....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar