Mina menggeliat diatas kasur bunga dahlia merah
jambu ketika secercah sinar sang surya membelai wajahnya. Dibukanya kedua
kelopak matanya. Terbentang dihadapannya keindahan hutan Malibou yang mempesona
dengan bebukitan yang diselubungi aneka warna bunga. Sebuah aliran sungai yang
berair bening menciptakan gemercik halus bak musik terapi jiwa. Beragam
dedaunan kering yang berwarna coklat keemasan bagai permadani menutupi
permukaan tanah hutan.
Ini hari pertamanya sebagai seorang peri hutan. Malam tadi dia mengambil sebuah
keputusan besar dalam hidupnya. Menjadi seorang peri seperti dalam film-film
kartun yang pernah dilihatnya. Setelah selama sebulan tersesat di hutan dan
berteman dengan beberapa peri, akhirnya ia menyetujui ajakan mereka untuk menjadi
seorang peri pelindung hutan.Ditegakkannya tubuhnya yang telah menyusut menjadi sebesar jari telunjuk manusia biasa. Dicobanya mengepakkan kedua sayap yang baru diterimanya pada acara penyambutan tadi malam. Masih teringat dengan jelas peringatan Ratu Peri padanya, "Mina, tunggu hingga esok pagi tiba sebelum kamu mencoba sayap barumu. Dan ingat, jangan memakainya terlalu lama atau memakainya untuk terbang sambil membawa beban yang terlalu berat."
***
Mina tersenyum bahagia kini dirinya telah
memiliki sayap, dan bebas terbang kemana pun ia mau. Bruk…! Mina terjatuh.
Sayapnya masih lemah. Ia mencoba untuk yang kedua kali, membentangkan sayapnya,
dan kini ia tersenyum puas. Sayapnya telah berfungsi dengan baik, membawa
tubuhnya melayang di udara.
Taman bunga tempat para peri tampak begitu
indah. Aneka warna bunga tumbuh subur di sana. Mina terbang menghirup kelopak
bunga satu persatu, menikmatinya bersama sisa embun pagi. Matahari mulai
mersinar memberikan kehangatan, membuat tetes air di atas daun tampak
berkilauan bak mutiara yang terhampar.
Ia mencoba terbang ke arah hutan, melewati
semak dan pepohonan yang mejulang. Keindahan hutan membuatnya berdecak kagum.
“Indah,” gumam Mina. Matahari mulai condong ke barat, saat sesuatu menarik
perhatian Mina. Matanya menatap sesuatu berwarna ungu di kejauhan. Ia terbang
mendekat. Anggrek ungu. “Aku ingin membawanya pulang,” bisik batin Mina.
Saat mencoba memetik kelopar anggrek itu,
tiba-tiba sayapnya melemah. “Apa yang terjadi dengaku?” tubuh mungil itu
melayang jatuh bagaikan daun terlepas dari tangkainya.
"Bruuuk"
Tubuh mungilnya terhempas di rerumputan.
Beruntung tubuh mungilnya tidak mengalami luka yang berarti. Hanya memar di
bagian lututnya.
"Huft, sepertinya aku terlalu
memaksakan diri," ucapnya.
Mina mencoba mengepakkan sayap mungilnya, namun
ia masih merasa kesakitan. Tubuhnya masih terhuyung-huyung akibat kejadian itu.
"Kau tak apa?" ucap suara
seseorang dari belakangnya.
"Heh, iya gak apa-apa kok,"
"Maaf, tadi tidak bisa
menolongmu,"
"Gak apa-apa kok!" ucap Mina
datar.
"Ngomong-ngomong kamu siapa?"
lanjutnya.
"Aku Javier. Peri penjaga yang
sedang berpratoli di daerah sini. Kenapa kau sampai terjatuh tadi?"
“Oh, ya tadi, aku ingin memetik anggerk cantik
itu dan membawanya pulang, namun sepertinya sayapku masih belum cukup kuat
untuk menahan beban”
“Apa katamu tadi? Memetik?” tanya Javier,
terdengar perubahan pada suaranya dan raut wajahnya, membuat Mina merasa ia
telah melakukan sesuatu yang salah.
“Eh, memangnya kenapa? Tapi, tapi aku belum
memetiknya kok”.
Javier masih memandangnya dengan raut yang
membuat Mina merasa tidak enak, hingga akhirnya berkata, “Kau selamat kalau
begitu”
Jantung Mina serasa mencelos mendengar kalimat
tersebut, yang berarti dia memang benar-benar hampir melakukan sesuatu yang
dilarang bahkan mungkin tabu. “Ke, kenapa memangnya? Bolehkah aku tahu? Tidak
boleh memetik bunga ya?”
“Bukan memetiknya, tapi kau hampir saja memetik
bunga Anggrek, jelmaan Ratu Arshidila; Ratu terdahulu, beliau mengorbankan
dirinya untuk menyelamatkan hutan ini dengan menjadikan diri beliau sendiri
sebagai pelindung dengan menjadi bunga Anggrek”
Mina terkesiap dan sangat malu sekaligus merasa
sangat bersalah, “Ma, maafkan aku”
Javier menggeleng, “Bukan padaku, tapi pada
bunga itu”
“Ah, ya..” Mina langsung mengembangkan sayapnya
namun saat ia mulai mengepakkan, ia tidak dapat mengangkat dirinya. Ia coba
kembali, namun satu senti pun tidak.
“Kenapa?” tanya Javier.
Wajah Mina berubah pucat, ia semakin takut,
kalau-kalau saja ini adalah hukuman dari Sang Ratu Arshidila, Mina mulai
merasakan matanya memanas, dan kelopak mata bagian bawahnya mulai menggembung berusaha
menahan air matanya yang akan menyeruak, “Tidak, tidak apa-apa Javier” katanya
berbohong, “Ya, aku akan meminta maaaf, kau bisa meninggalkanku sekarang”. Mina
tidak peduli lagi apabila cara bicaranya tidak sopan karena ia tidak ingin
Javier melihatnya menangis.
“Kau baik-baik saja?” tanya Javier.
Bibir Mina mulai bergetar, “Ya” jawabnya
singkat sambil menunduk yang justru membuat air matanya keluar dari bendungan
kelopaknya.
“Baiklah, aku tinggalkan” ucap Javier akhirnya
meninggalkannya terbang.
Air mata Mina langsung mengalir lebih deras
berjatuhan ke tanah. Ia menyapunya dengan lengan gaunnya. Mina lalu berjalan ke
arah batang kayu besar dimana Anggrek itu menempel, tinggi sekali kalau dilihat
dari bawah sini. Satu-satunya cara adalah memanjat! Mina mulai mencari pijakan
pertama dan pegangan kemudian mengangkat dirinya, lalu Mina terus memanjat dengan
susah payah. Sekitar tingginya sudah empat kali panjang badannya, Mina mulai
memanjat dengan tenang, dan mulai memikirkan kalau sebenarnya ia adalah peri
yang aneh; memiliki sayap tapi memanjat, dan tertawa sendiri, namun tiba-tiba
kakinya terpeleset dan pegangan pada tangannya lepas membuat ia terjatuh
terhempas ke tanah dan tak sadarkan diri.
***
Saat
kesadarannya mulai kembali, Mina masih merasakan sakit pada bagian belakang
kepalanya, namun ia merasa gatal pada seluruh badannya yang ternyata sedang berbaring
di atas tumpukan jerami, yang berupa sarang seekor burung hantu besar yang
menakutkan.
“Oh,
kau tak perlu takut, peri! Aku tidak akan memakanmu, yah walaupun aku pemakan
daging sebenarnya, tapi kau pengecualian.” katanya terdengar suara dengkuran
khas burung hantu diakhir perkataannya, Mina berpikir bahwa itu adalah kekehan
burung hantu.
“Ah,
yah, terima kasih tuan burung hantu” ucap Mina, namun sesaat kemudian ia
langsung teringat kembali akan masalahnya “Tahukah kamu tentang Ratu Arshidila?”
“Yah,
tentu, beliau baik sekali kepada bangsaku, makanya aku juga baik pada kalian”
Mina
terkesiap mendengar ucapan si burung hantu, semakin menambah perasaan
bersalahnya.
“Kenapa
memangnya?” tanya si burung hantu. Kemudian Mina pun menceritakan kejadian yang
menimpanya siang tadi, mulai dari saat ia berusaha memetik Anggrek hingga ia
berusaha memanjat dan terjatuh.
“Hmm,
kau ingin memetiknya lalu kau kena karmanya? Entahlah, menurutku ratu Arshidila
adalah seorang ratu yang sangat baik, terlalu baik malah, bahkan untuk sebuah
karma”
“Bagaimana
kalau alam yang marah atau Tuhan?” tanya Mina berkelanjutan.
“Tidak
tahu ya, tapi kenapa tidak kau coba saja terbang sekarang?”
“Kau
bercanda? Aku bisa mati dengan ketinggian seperti ini” kata Mina melihat ia
berada di sebuah pohon yang rasanya setinggi puncak monas. Si burung hantu
kembali mengeluarkan suara dengkuran tawanya, “Kudengar para peri hidup ribuan
tahun, bagaimana kau bisa mati?”
“Tapi
mungkin saja itu pengecualian”
“Coba
saja!” lalu burung hantu itu maju langsung mendorong Mina keluar dari sarangnya
dan AAAAHHHH.... Mina jatuh dari ketinggian lebih seribu kaki bagi ukurannya,
sesaat Mina mengira ia akan mati, namun ia dapat merasakan badannya ringan dan
angin serasa mengelus sayapnya, kemudian secara naluriah Mina membentangkan
sayapnya dan ia merasakan angin mulai menekannya ke atas. Mina berhasil terbang!
Ia kemudian meliuk-liuk merasakan angin yang berhembus menerpa wajahnya
melewati sayap-sayap indahnya dan ia menikuk ke atas menuju sarang si burung hantu
“Terima kasih tuan burung hantu!!” teriaknya penuh terima kasih.
“Ya
ya ya”
Kemudian Mina pergi
terbang ke arah timur hutan, dimana para peri lainnya juga banyak pergi kesana,
bagian sanalah yang paling parah kerusakannya akibat ulah manusia kata Totty,
peri yang memberinya tugas dariRratu. Dan ternyata kenyataannya lebih buruk;
hutan terbabat habis, namun tidak hanya itu, keadaan tanah disini hitam akibat
hasil dari kebakaran yang mereka ulah, sehingga tidak ada satupun tumbuhan
kecil apalagi tunas yang tersisa.
Tiba-tiba gejolak
kemarahan bergemuruh di dadanya. Ia merasa berang sekali melihat keadaan hutan
yang sudah seperti ini.
Mina terus terbang
memandang dengan sedih dan marah, lupa bahwa tugas utamanya adalah memperbaiki.
Kemudian Mina melihat seorang kakek tua dengan badan masih tegar; sedang
menunduk, mencangkul tanah dan kemudian menanam sebuah bibit, setelah selesai,
beliau mulai mencangkul lagi tanah beberapa meter dari tempat pertamanya. Mina
mengamatinya dari balik bekas tebangan pohon yang menghitam, dan kakek itu
terus aja melakukan aktivitanya tanpa henti. Ketika kakek itu bertepatan
membelakanginya, Mina langsung terbang membumbung untuk melihat hasil kerja
kakek tersebut. Betapa terkejutnya ia saat mendapati hingga ujung hutan, sudah
berjejer rapi bintik-bintik hijau, yang merupakan bibit-bibit yang ditanam oleh
kakek tersebut.
Mina terbengong melihat
sang kakek. Mina terbang berkeliling melihat hasil sang kakek yang berjerih
payah. Mina menghampirinya dengan sedikit ragu. “Hay kakek... mengapa kau
menanami hutan ini?” pertanyaan itu meluncur begitu saja tanpa ia berpikir
panjang.
Sang kakek yang sedang
mengelap wajah yang penuh peluh keringat bercucuran, sesaat terlihat bingung
menengok sana-sini mencari asal suara kecil yang ia dengar. Mina baru ingat
kalau ia sekarang berwujud peri! Namun saat ia hendak kabur, mata kakek telah
melihatnya, matanya membesar antara kaget tidak percaya dan kagum. “Tidak
kusangka, ternyata peri itu benar-benar ada!”. Mina jadi takut dan bingung
antara harus pergi atau tetap menunggu jawaban si kakek. Lalu kakek itu
tersenyum ramah menatap Mina, keterkejutannya tidak melupakannya dengan
pertanyaan Mina, lalu kakek berkata. “Karena aku pernah merusak hutan pula
wahai peri. Aku melakukan ini adalah untuk menebus kesalahanku tempo dulu”.
Mina terlihat masih
bingung. “Kapan kamu merusak hutan ini? Baru saja?”
“Enam tahun yang lalu”
“Enam tahun yang lalu?”
gumam Mina untuk dirinya sendiri “Berapa lama kamu sudah menanami seperti ini
kakek?”
“Baru lima tahun” kata
kakek yang kemudian terkekeh, Mina mengangkat alisnya, “Kamu tahu wahai peri?
Sebenarnya aku sempat dijuluki oleh orang barat itu ‘peri hutan’, tak kusangka
aku malah benar-benar bertemu dengan peri hutan yang asli.”
“Orang barat?”
tanyaMina kembali tak paham.
“Oh iya, sebentar” lalu
kakek itu mengeluarkan sebuah kertas abu-abu lusuh dari kantongnya yang
ternyata adalah robekan koran, ia memperlihatkannya kepada Mina, “Eh, kau bisa
membaca?”
“Tentu saja!” sahut
Mina sewot, ia mulai membaca dan mengejutkan sekali isinya, isinya menceritakan
tentang seorang yang diminta oleh kemenentrian Amerika untuk mengisi bagian
departemen kehutanan di negara adidaya tersebut, karena ia tanpa sengaja
terlihat oleh salah seorang bagian pemerintahan Amerika yang berkunjung ke
Indonesia, selalu menanami hutan yang gundul setiap hari, saat orang
pemerintahan tersebut melihat-lihat, ia terkagum-kagum saat tahu ternyata orang
tersebut bekerja tanpa dibayar, sehingga ia tertarik dan menawarkan kepadanya
untuk bekerja di Amerika di bagian pemerintahan, dengan pekerjaan yang begitu
tinggi dan dibayar! Namun ia menolaknya begitu saja dan tetap menanami hutan
tersebut tanpa dibayar dan tetap tanpa pernah diperhatikan oleh pemerintah Indonesia.
Dan Mina lebih terkejut lagi saat melihat gambar seseorang yang mirip dengan
kakek terpampang dibagian robekan koran tersebut. “Ini kakek?’ tanyanya.
“Ya” katanya sambil
tersenyum lebar, “Orang itu, orang barat yang memintaku itu, baik sekali, kami
sempat berteman dan dia memberiku gelar ‘Peri hutan’, yah dan siapa sangka aku
benar-benar bertemu peri hutan yang lain”.-
~Selesai~
Cerpen disusun oleh anggota kelompok X (PENAKLUK) pada Grup Facebook
“PEDAS-Penulis dan Sastra”;
1. Andalusiana Cordoba
2. Prissando Pangeran
3. Lyla Nur Ratri
4.Maria Uhuuii
5. Wahyu Laila El-lu'luah
6. Shofia Marzalini Sopi Part II
7. Abu Yazid Busthami
Cerpen
ini agak saya ubah sedikit ceritanya ke arah khayalan saya, karena ternyata
cerpen bersambung itu memang dilakukan oleh orang2 yang memiliki pikiran yang
berbeda.... jadi... ternyata cerita yang saya khayalkan berbeda... namun tetap
asik, nah jadi, ini adalah versi agak ke saya... :D kalau mau versi hasil murni
gabungan 7 penulis di atas, dapat dilihat di grupnya....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar